Ripih dalam Tradisi Adat Jawa, Simbol Doa dan Harapan Leluhur

  • May 18, 2026
  • SUJARNO

Ripih merupakan salah satu bagian penting dalam tradisi adat Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini. Ripih biasanya digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan selamatan, seperti metri manten (pernikahan), tingkepan atau 7 bulanan bayi, bersih desa, hingga acara syukuran lainnya. Kehadiran ripih bukan sekadar pelengkap acara, namun memiliki makna filosofi yang mendalam sebagai simbol doa, keselamatan, kemakmuran, dan harapan baik bagi yang melaksanakan hajatan.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, ripih disusun dari berbagai hasil bumi dan makanan tradisional yang memiliki makna tersendiri. Salah satu isi utama ripih adalah polo pendem atau umbi-umbian yang tumbuh di dalam tanah, seperti singkong, ubi jalar, talas, dan sejenisnya. Polo pendem melambangkan sumber kehidupan, kesederhanaan, serta harapan agar manusia selalu membumi dan mampu bertahan dalam berbagai keadaan.
Selain itu terdapat pula gulo gimbal, makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan yang disangrai kemudian dicampur gula merah dan kelapa parut. Gulo gimbal memiliki rasa manis yang melambangkan harapan kehidupan yang harmonis, rukun, dan penuh kebahagiaan. Dalam beberapa daerah juga terdapat gula gringsing yang menjadi simbol penolak bala dan harapan agar dijauhkan dari segala mara bahaya.
Ripih juga biasanya dilengkapi dengan pisang dan aneka hasil bumi lainnya. Pisang dalam budaya Jawa sering dimaknai sebagai lambang kemakmuran, keberlanjutan keturunan, serta doa agar segala urusan diberikan kelancaran.
Keunikan lain dari ripih adalah adanya replika boneka manten beserta berbagai asesorisnya. Boneka manten menjadi simbol pasangan manusia yang menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh keharmonisan, kesetiaan, dan kesejahteraan. Dalam acara 7 bulanan maupun bersih desa, boneka manten juga menjadi perlambang keseimbangan kehidupan serta penghormatan terhadap adat dan budaya leluhur.
Hingga sekarang, tradisi ripih masih tetap dijaga oleh masyarakat Jawa sebagai warisan budaya yang sarat makna. Selain menjadi bagian dari ritual adat, ripih juga menjadi media untuk mempererat kebersamaan warga, gotong royong, serta mengenalkan nilai budaya kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.